Menu Lain
Daftar BacaGanti TemaCari
Reading List

Queue · 0 items

Daftar baca Anda kosong. Simpan artikel untuk membacanya nanti.

Start Reading

Mencoba Antigravity: AI Code Editor yang Bikin Penasaran

Iwan Efendi6 min
Banner Antigravity AI code editor di desktop Linux

Kesan pertama saya mencoba Antigravity di Linux, mulai dari trial Google One, pilihan model AI, kendala instalasi Ubuntu, sampai crash yang cukup mengganggu.

Belakangan ini saya lumayan sering lihat Antigravity lewat TikTok. Awalnya saya kira ini cuma satu lagi AI code editor yang ikut masuk ke arena yang sudah diisi Cursor, Windsurf, dan Zed. Tapi makin sering muncul di timeline, makin besar juga rasa penasaran saya. Namanya unik, tampilannya kelihatan rapi, dan konsepnya jelas: editor khusus yang dari awal memang dibangun di sekitar akses ke model AI premium. Akhirnya saya coba sendiri.

Saya Masih Baru Banget di Linux

Saya perlu kasih konteks ini dulu, karena menurut saya cukup penting. Saya baru mulai serius pakai Linux belum lama ini setelah setup dual-boot. Di sistem Linux saya sendiri, editor yang benar-benar baru saya sentuh sejauh ini juga masih sedikit: VS Code dan Antigravity. Windsurf memang sudah terpasang, tapi jujur saja belum sempat saya eksplor. Jadi tulisan ini bukan review dari sudut pandang pengguna Linux senior yang sudah bertahun-tahun hidup di terminal. Ini lebih ke cerita dari orang yang masih adaptasi, masih belajar, dan masih bisa tersandung hal-hal dasar. Kalau kamu juga lagi ada di fase itu, mungkin pengalaman saya justru lebih relate.

Sebelumnya Saya Sudah Coba di Windows

Sebelum mencobanya di Linux, saya sebenarnya sudah lebih dulu pasang Antigravity di Windows. Penyebabnya sama: TikTok. Kesan awal saya waktu itu cukup campur aduk. Fitur AI-nya terlihat menarik, tapi aplikasinya sendiri belum terasa stabil. Masalah yang paling sering bikin kesal adalah proses login yang kadang susah masuk tanpa alasan yang jelas. Saya beberapa kali harus ulang lagi dari awal. Meski begitu, karena trial gratisnya lumayan menarik, saya tetap lanjut iseng eksplorasi. Dari situlah muncul rasa ingin tahu apakah versi Linux-nya akan terasa lebih baik atau justru sama saja.

Antigravity Terlihat Serius dari Cara Distribusinya

Hal pertama yang cukup bikin saya memperhatikan Antigravity adalah cara mereka mendistribusikan aplikasi ini di Ubuntu. Ini bukan model distribusi yang sekadar lempar AppImage ke halaman download lalu selesai. Antigravity punya repository APT sendiri yang di-host di Google Cloud, lengkap dengan GPG signing key. Memang itu bukan jaminan aplikasinya otomatis bagus, tapi minimal ada kesan bahwa produk ini dibangun dengan rencana update dan maintenance jangka panjang. Untuk editor AI, detail seperti ini menurut saya penting. Bukan cuma soal fitur chat atau auto-complete, tapi juga soal bagaimana software itu dikelola sebagai produk yang benar-benar dipakai setiap hari.

Trial Gratis 30 Hari dari Google One

Bagian ini yang paling cepat membuat saya tertarik. Antigravity memang bukan editor gratis sepenuhnya, tapi saya berhasil dapat trial 30 hari lewat promo di aplikasi Google One di Android. Waktu itu saya cuma lagi buka aplikasinya secara santai, lalu tiba-tiba lihat penawaran Antigravity di sana. Setelah saya klaim, saya juga dapat 1.000 AI Credits. Buat saya ini penting, karena artinya saya bisa benar-benar mencoba beberapa model dan merasakan editor-nya tanpa langsung mentok ke batas yang terlalu kecil.
Cek Dulu Kalau Punya Google One
Kalau kamu memang berlangganan Google One, coba buka aplikasinya dan cek apakah promo Antigravity yang sama masih tersedia di akun kamu.

Daftar Model AI-nya Cukup Menarik

Setelah masuk ke Settings → Models, saya lumayan terkesan dengan pilihan model yang tersedia. Di akun saya, daftar yang muncul kurang lebih seperti ini:
  • Gemini 3.1 Pro dengan beberapa tier kuota
  • Gemini 3 Flash
  • Claude Sonnet 4.6 (Thinking)
  • Claude Opus 4.6 (Thinking)
  • GPT-OSS 120B (Medium)
Untuk ukuran trial, daftar ini menurut saya sudah cukup mewah. Yang saya suka lagi, informasi kuotanya juga ditampilkan cukup jelas, jadi kita bisa lebih gampang mengatur model mana yang dipakai untuk tugas tertentu. Layar ini yang bikin trial Antigravity terasa lebih serius dari dugaan awal saya.

Cara Mengaktifkan AI Credit Overages

Opsi ini berguna, tapi lokasinya agak gampang kelewat kalau baru pertama kali masuk.
1
Buka Settings dari menu editorJangan langsung cari halaman pengaturan khusus Antigravity. Buka Settings dari menu Editor.
2
Masuk ke tab ModelsDi dalam Settings, pindah ke tab Models untuk melihat daftar model dan kuota masing-masing.
3
Aktifkan AI Credit OveragesNyalakan opsi Enable AI Credit Overages kalau kamu ingin Antigravity otomatis memakai AI Credits saat kuota model utama sudah habis.

Cara Saya Menghemat Kredit

Karena jumlah kreditnya terbatas, menurut saya sayang kalau semua prompt langsung dilempar ke model paling berat.
  • Untuk tanya jawab ringan atau eksplorasi cepat, Gemini 3 Flash sudah terasa cukup masuk akal.
  • Untuk tugas coding yang butuh reasoning lebih rapi atau refactor yang lebih serius, baru naik ke Gemini Pro atau Claude Sonnet.
  • Claude Opus sebaiknya disimpan untuk tugas yang benar-benar rumit, bukan untuk percakapan editor yang masih level biasa.
Kalau dipakai dengan strategi seperti itu, 1.000 kredit bisa bertahan lebih lama dari yang kelihatannya.

Instalasi di Ubuntu Tidak Selicin yang Saya Bayangkan

Secara resmi, proses instalasinya kelihatan simpel, cuma beberapa langkah. Tapi saya langsung kena batu di awal karena curl belum terinstal di sistem saya. Akibatnya, langkah download GPG key gagal, tapi repository-nya telanjur masuk. Setelah itu, saat menjalankan apt update, muncul error seperti ini:
NO_PUBKEY C0BA5CE6DC6315A3
Begitu saya paham akar masalahnya, solusinya sebenarnya cukup lurus.
1
Pasang curl dulu
sudo apt install curl -y
2
Unduh ulang signing key repository Antigravity
curl -fsSL https://us-central1-apt.pkg.dev/doc/repo-signing-key.gpg | \
  sudo gpg --dearmor --yes -o /etc/apt/keyrings/antigravity-repo-key.gpg
3
Verifikasi bahwa key sudah tersimpan
sudo gpg --no-default-keyring \
  --keyring /etc/apt/keyrings/antigravity-repo-key.gpg \
  --list-keys
4
Update index paket lalu instal Antigravity
sudo apt update
sudo apt install antigravity
Dari pengalaman kecil ini, saya malah jadi diingatkan lagi bahwa dokumentasi instalasi resmi sering mengasumsikan sistem kita sudah punya dependency dasar yang lengkap.

Soal Stabilitas, Menurut Saya Ini PR Terbesarnya

Di bagian ini saya harus jujur. Walaupun pengalaman memakai Antigravity cukup menyenangkan di beberapa sisi, saya belum bisa menyebutnya stabil di Linux. Saya beberapa kali mengalami crash, dan salah satu notifikasinya kurang lebih seperti ini: Pesan seperti ini cukup bikin mood coding turun seketika.
"Sorry, the program 'antigravity' closed unexpectedly. Your computer does not have enough free memory to automatically analyze the problem and send a report to the developers."
Ini cukup mengganggu. Crash saja sudah buruk, apalagi kalau crash-nya sampai membuat proses analisis bug otomatis ikut gagal karena memori habis. Dan di titik ini, pengalaman saya di Linux terasa seperti mengulang pola yang sudah saya rasakan sebelumnya di Windows. Bentuk masalahnya memang beda, tapi kesan dasarnya sama: Antigravity punya potensi, cuma kestabilannya masih belum meyakinkan.

Beberapa Screenshot Selama Trial

Sedikit gambaran Antigravity di sistem saya, dari tampilan editor sampai momen yang agak bikin gemas.

Saya tetap berharap tim developer-nya terus membenahi produk ini, karena pondasinya sendiri sebenarnya tidak buruk.

Verdict Sementara Saya

Antigravity itu menarik. Bagian itu menurut saya tidak sulit untuk diakui. Akses ke model seperti Claude Opus, Claude Sonnet, Gemini Pro, dan GPT-OSS dari dalam satu editor jelas punya nilai jual yang nyata, apalagi kalau sistem kuotanya terlihat cukup transparan untuk dikelola. Cara distribusinya lewat repository APT yang proper juga memberi kesan bahwa ini bukan proyek iseng. Tapi kalau saya jujur, tanpa trial 30 hari dari Google One, saya mungkin akan jauh lebih hati-hati sebelum berkomitmen. Crash di Linux dan masalah login yang sebelumnya saya temui di Windows sama-sama menunjukkan bahwa produk ini masih punya banyak hal yang perlu dirapikan. Untuk sekarang, pendekatan paling aman menurut saya sederhana saja: nikmati trial-nya, eksplor kemampuan AI-nya, pakai kredit dengan hemat, dan jangan pasang ekspektasi terlalu tinggi dulu. Kalau kamu ingin lihat produknya langsung, kamu bisa buka halaman resmi Antigravity. Kalau kamu juga kenal Antigravity dari TikTok, atau justru sudah lebih lama memakainya, saya penasaran apakah pengalaman kamu sejauh ini lebih mulus atau malah mirip seperti yang saya alami.
Topics

Topik dalam artikel

Pilih topik untuk menemukan artikel lain dengan bahasan yang serupa.

Bagikan artikel ini

Diskusi

Menyiapkan area komentar...

Anda Mungkin Juga Suka